Archive for August, 2008

28
Aug
08

Servis…

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,

Selasa kemaren, aku kembali menemui Miss Lin, ingat kan siapa beliau, di serial insiden keselelo, hehehe.. Aku kembali menemui sang Resident Counselor ini, karena ada mahasiswa Muslimah tahun kedua yang meminta kepadaku agar mengusahakan dipindah ke kamar lainnya, karena merasa tak nyaman ketika beribadah, hal ini disebabkan oleh perbedaan agama dengan dua orang roomate-nya. Yah, begitulah kalau hidap di negeri Muslim minoritas, harus berjuang dan berjuang untuk tetap istiqomah di jalan Allah SWT. Sabar ya Ukhti..

Kuangkat gagang telfon kamarku, kuhubungi nomor ekstensi ruangan Miss Lin.. Can I speak with Miss Lin?? Itulah kalimat yang kuajaukan ketika ada petugas di office yang bertanya tentang keperluanku.. Setelah berbicara dan meminta waktu akhirnya aku menuju ke Lantai 3, Gedung Yunping itu.

Miss Lin dengan sigap menyediakan kursi bagiku untuk duduk dan membantu beliau dalam meng-arrange kamar bagai mahasiswa Internasional. Bayangkan oi, dormitory yang jumlahnya sekitar 10 gedung, tiap gedung 10 tingkat, setiap lantai berisi 11 kamar, semua berada di data basenya Miss Lin. Aku bisa sangat berempati dengan beliau, ketika tahun lalu aku yang baru saja datang ke NCKU, tiba tiba di masukkan di kamar yang telah dihuni oleh orang India. To be honest, ada beberapa hal yang membuat aku akhirnya memaksa Miss Lin untuk memindahkan aku dari kamar itu.. Baunya uei.. hehehe.. tapi Miss Lin waktu itu bersikeras, untuk tetap tidak memindahkanku dari kamar itu…

Alhamdulillah, Pak Mungki yang dulunya tinggal di kamar sebelah, saat itu berada di apartemen beserta istrinya, sehingga kamar beliau kosong… Selama beberapa bulan, aku berada di kamar beliau, hehehe.. Jazakallah Pak Mungki.

kembali ke Miss Lin, beliau bertanya… kenapa dia mau pindah Dan?? Akupun sedikit bercerita, bahwa flat tersebut seringkali dimasuki oleh laki laki, sehingga sang Muslimah ini, merasa sangat tidak nyaman. Miss Lin lalu bertanya tentang mengapa Muslimah harus menggunakan jilbab, kujelaskan satu persatu alasannya dengan beliau. Beliau mengangguk anggukan kepalanya. Tapi ada satu pertanyaan yang membuat aku sedikit tertawa.. Miss Lin berkata begini, “Saya heran, dan.. kalau tidur susah ya Muslimah itu?? Ntar kalo kepala atau mukanya kena jarum dijilbabnya gimana??” hihihihi.. Kujelaskan kembali kepada beliau mengenai hal tersebut.

Sekitar 30 menit, kami mengurusi masalah data base mahasiswa Muslim Indonesia, terutama kamar untuk sang Muslimah ini. “Ada tiga alternatif kamar, dua kamar di lantai 10 dan satu kamar di lantai 8, tepatnya 809“, ujar Miss Lin. “Tapi, kamar itu sebenarnya saya siapkan untuk transit mahasiswa baru yang kemalaman sampe di dormnya, mungkin akhir September baru bisa ditempati“, lanjut Miss Lin. Hmm.. oke, nanti aku bicarakan dulu kepada anak anaknya.. Belum selesai aku menjelaskan maksudku…Tiba-tiba ada seorang mahasiswa lokal, sepertinya undergraduate, yang datang dan mendekati Miss Lin, aku lihat dia menggunakan alat bantu pendengaran. Miss Lin berucap, “sebentar ya Dan??” Akupun mengangguk tanda setuju.

Miss Lin pun bertanya dengan sangat ramah dengan anak tersebut, dan ternyata anak tersebut membawa secarik kertas yang sudah ditulis mengenai keinginannya. Miss Linpun menjawab, namun sepertinya si anak ini sulit sekali menangkap suara… Miss Lin mengambil secarik kertas dan menuliskan jawabannya, lalu sang mahasiswa kembali menuliskan kalimatnya di kertas, terkadang sang mahasiswa bertanya langsung, dan kembali.. Miss Lin dengan sangat sabar menorehkan kalimat demi kalimat di kertas tersebut dan itu berulang ulang terjadi selama hampir setengah jam… Lalu setelah selesai, si Anak tadi keluar dengan muka yang kelihatan gembira sekali.

Luar biasa fikirku, kalau aku jadi Miss Lin belum tentu sesabar itu… Ketika kutanyakan beliau menjawab, “menservis mahasiswa itu adalah bagian dari keungggulan sebuah universitas, Dan..” Aku sedikit terkagum juga dengan kalimat beliau ini.

Belum selesai kami berbincang, datang lagi Sanchita Panja, classmate ku yang berasal dari India. Karena baru saja operasi maka Sanchita meminta kepada beliau untuk dicarikan kamar khusus baginya. Lagi lagi Miss Lin melayani dengan tersenyum. Baru saja Sanchita keluar, seorang mahasiswa asal Inggris, tiba tiba masuk dan meminta bantuan beliau. Dan beliaupun segera menyelesaikan masalah cewek berambut pirang tersebut.

Hebat!!! gumamku dalam hati. Begitu besar perhatian mereka akan arti kata servis. masih ingat juga dikepalaku, ketika beberapa hari yang lalu, aku membantu Mbak Dini, mahasiswa baru di jurusan Teknik Lingkungan, untuk mencarikan data Professor di jurusannya. Kemudian ku ajak dia ke IMBA Office, untuk meminjam telefon guna menghubungi jurusan yang dia tuju tersebut. Baru saja masuk ke ruangan IMBA, Tiffany yang melihat Mbak Dini langsung berujar, “Yordan, would you like to make a cup of tea for your friend?”, aku agak kaget juga, aku kan belum memperkenalkan Mbak Dini, gumamku dalam hati, tapi langsung aja aku buatkan secangkir teh panas buat Mbak Dini, hehehe…

Kembali ke ruangan Miss Lin, selagi Miss Lin melayani tiga orang tadi, sebenarnya aku melihat lihat data base yang aad di komputer beliau. Setelah melihat lihat ada beberapa mahasiswa Muslim yang belum tercantum di raungan yang diinginkan, akupun langsung meminta beliau memasukkan nama-nama mahasiswa baru Muslim untuk ditempatkan di kamar para mahasiswa Indonesia lainnya, terutama yang satu agama. Tercatat nama Mas Ely, Mas Bayu dan beberapa mahasiswa Muslim lainnya belum ada dalam data base beliau dan ditempatkan di sembarangan kamar….

Alhamdulillah selesai juga.. Diakhir.. Tiba-tiba tiba Miss Lin bilang.. “Dan, boleh tanya?? kamu dibayar berapa sih ngurusin yang beginian, kog mau susah ngurusin orang lain??” Akupun hanya tersenyum dan mengatakan… “Inilah hebatnya agama Islam Miss Lin?? Jikalau saya tau bahwa seseorang itu Muslim, dia akui Allah sebagai tuhannya, maka dia adalah saudara saya?? dan saya wajib membantu saudara saya yang memang mebutuhkan bantuan, diminta ataupun tidak diminta..” Beliau berujar..“wow.. interesting.. how wonderfull your religion, Islam!! There is no religion like yours…” Yeah, like that, gumamku..

“Oke Miss Lin, Thank you very much“, ujarku beranjak dari kursi.. “wait.. Wait Yordan!! “This is for you, what is that??“, kataku cepat.. Ini Sun Moon Cake, khusus saya kasih untukmu lah, karena kamu sudah membantu saya dalam menangani masalah kamar yang complicated ini, seharusnya tiap negara punya perwakilan seperti kamu yang mau berjuang demi teman temannya, take it.. Akhirnya, kuambil juga tu kue.. lumayan eui.. di toko toko mah mahal, Alhamdulillah… Di kamar kumakan tu kue dan huuuuu, uenaaaakkk rekkk…

Nah.. dari cerita di atas.. Ibroh yang bisa kuambil hari Selasa kemaren adalah “Servise”, itulah memang kata kunci yang aku pelajari selama kuliah di Taiwan ini. Orang-orang Taiwan ini benar benar menservis mahasiswa dengan sangat baik, mereka juga berusaha menampilkan image yang berkesan bagi para mahasiswa Internasional.

Professor di tempatku kuliah juga sangatlah sederhana dan akrab dengan para mahasiswanya. Padahal mereka semua adalah Ph.D lulusan USA san UK, tapi mereka benar benar menjaga kedekatan dengan para mahasiswanya, Masih kuingat ketika pulang kuliah Managerial Accounting, aku langsung menuju ke parkiran sepeda, aku menengok disebelahku, Professor Wu Tsing-Tzai, sedang membuka gembok sepedanya.

Ph.D lulusan USA yang punya segambreng gelar sertifikasi dunia dalam bidang akunting itu (mulai dari CPA, CMA, CIA, CBA, CFSA dan teman temannya, haha,.. Kepanjanganne cari dewe yo?? Males, hehehe…), dengan santainya berucap..“See you every body” sambil mengayuh sepeda beliau.. hoohh… Serasa terbang!!!! Padahalkan biasa aja kale, hehehe… Iya sih, kalau di sapa Professor mah biasa disini, tapi kalau di sapa Professor sambil naek sepeda?? Jarang jarang ueii, haha… Keramahan seorang Professor kan bagian dari servis universitas juga, Bung??

Aku sempat berfikir, kalau prinsip getok tular di jawa kan luar biasa untuk menarik minat konsumen. Nah, mungkin prinsip itu jugalah yang dilakukan oleh Miss Lin dan officer di Taiwan ini untuk mendapatkan simpati dari para konsumen internasionalnya, yaitu kami para mahasiswa internasional dari 33 negara….

SERVIS…

Advertisements
22
Aug
08

Insiden Keseleo

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Klotak.. Au.. setengah berteriak aku menahan sakit di pergelangan kaki dan pahaku. Tiba tiba saja kakiku tergelincir dari tangga di ruang depan gedung Utama Kampus alias Yunping Building…

Dengan meringis tetap ku usahakan untuk tertatih tatih menuju elevator, karena Miss Lin, Resident Canselour sudah menungguku di ruangan beliau di lantai 3. Akibat dari insiden ini masih terus kurasakan sampai dengan saat ini, walaupun sudah agak mulai berkurang rasa sakitnya.

Semua ini dimulai dengan aktifitasku di hari rabu yang lalu. Sekitar pukul 11 siang aku mengaktifkan Yahoo Messenger ku.. Fiuh, banyak juga email yang masuk hari ini. Ada dua email yang paling menarik hari ini, yang pertama dari salah seorang mahasiswa UI yang curahat bahwa diterima sebagai penerima Beasiswa Pemerintah Taiwan, tapi jutsru dia menjadi Back Up di universitasku (sekedar informasi saja kalau Departemenku membuat para applicant yang memiliki potensi sebagai back up untuk diterima, jikalau ada applicant yang diterima namun mengundurkan diri). Yang kedua.. RAHASIA DONG!! PENGEN TEU AJA, hehehe…

Kembali ke mahasiswa UI… Kuhubungi Azman dan Alhamdulillah, aku punya jalannya (sebetulnya kejadian seperti ini sudah pernah terjadi terjadi, kebetulan aku jugalah yang mendatangi Direktur Program untuk meminta bantuan beliau membereskan masalah itu. Nah kali ini aku sudah tau bagaimana jalannya, hehehe). Kami (AKu, HAfidz sang alumni UI dan Azman) pun akhirnya ber-conference ria membahas masalah tersebut. Setelah sholat zuhur aku pun segera meluncur ke lantai 2 alias IIMBA Office, kuprint sebuah surat yang ditandatangai oleh Direktur Program, yaitu Professor Wu, dan surat ini  ditujukan untuk Perwakilan Negara Taiwan (TETO) di Indonesia. (Note: Alhamdulilah, kamis kemaren surat suratnya sudah ditandatangani dah aku Fax kepada Chairman-nya TETO di Jakarta, selain itu juga surat itupun aku kirim via email kepada pimpinan TETO sendiri.)

Selesai juga nih, fikirku dalam hati, secepat kilat akupun segera menuju ke ruangan Professor Wu, lantai 6 di gedung depan IIMBA. Ku ketuk pintu ruangan sekretaris beliau. Sekretarisnyapun bilang kalau Professor Wu ada acara di luar kampus. Yah, agak kecewa juga.. Lalu si sekretaris inipun bertanya tentang keperluanku. Akhirnya si sekretaris bilang, kalau begitu kamu print saja menggunakan kertas kop, ini isinya dah bagus kog, biar nanti Professor Wu tinggal tanda tangan. Sumringah euiiii, aku bilang aja.. “Oke deh, 15 menit lagi aku balik kesini, hehehe..”

“Mindy… kog kertas kop gak ada sih??” Mindy langsung menjawab.. “kamu cari di tumpukan amplop tuh.. Pusing nggak ketemu ketemu juga”, finally Mindy bilang.. “Kayaknya di ruangan sebelah ada deh, perlu berapa??” Cukup dua aku bilang.. Thanks Mindy ucapku.. Setelah aku print dengan kertas kop, akhirnya aku kembali menyerahkan surat itu kepada Sekretaris Professor Wu. “oiya, tulis pesen tuh buat Professor, selanjutnya kamu tunggu ya sampe pukul 6, kalo nggak ada telfon dariku berarti Professor gak balik”.. Wokeh ucapku lirih..

Baru aja kembali ke IIMBA Office, aku bercerita dengan Azman yang saat itu sedang bekerja. Terima Kasih Cinta-nya Afgan, tiba tiba berkumandang di ponselku.. karena nomor asing.. Ku jawab saja.. We, nihao?? (gaya banged ya?? haha..) Dari ujung telefon, tiba tiba menyapa.. “Good afternoon Yordan, this is Miss Lin, Resident Conselour, I would like to talk to you concerning the letter that you put in my table“.

Yupe, kebetulan beberapa hari yang lalu, aku meletakkan sebuah surat di mejanya beliau, surat itu berisi tentang permohonan bagi beberapa mahasiswa Muslim dari Indoensia untuk ditempatkan dalam satu kamar yang sama. Selain itu Iman dan Mas Badri yang baru saja berpindah kamar, ternyata tidak tercatat sebagai penghuni kamar tersebut. Weikkk, kamar mereka malah terisi mahasiswa asal Vietnam, hehehe..

Miss Lin lalu menjelaskan kalau dia sudah membaca suratku dan memahami bahwa telah terjadi kekeliruan di kamarnya Iman dan Mas Badri, namun dia akan tetap memasukkan mahasiswa Vietnam tersebut bertiga dengan mereka berdua. Akupun sempat meminta kepada Miss Lin untuk mencari kemungkinan bagi mahasiswa Vietnam itu untuk dipindah ke kamar lain. Miss Linpun bilang, oke saya usahakan. Alhamdulillah, fikirku…

“Then, Mr. Kaburuan OK in 209,” lanjut Miss Lin. Nah, itu juga menggembirakan… Bang Emil yang juga mahasiswa Indonesia juga akhirnya ditempatkan sesuai kamar yang diminta. “Selanjutnya.. ini ada masalah kata Miss Lin, kamar 202 itu masih ada mahasiswa Vietnamnya, jadi tak mungkin kalau dua orang mahasiswa Indoensia bisa masuk ke sana”. yang dimaksud adalah Nandho dan Yoke yang merupakan alumni dari ITS Surabaya. Kujawab dengan pasti, bahwa si Khan, Vietnamese itu akan segera berpindah ke apartemen barunya, awal September ini. Miss Lin menjawab bahwa dia belum menerima konfirmasinya dan selanjutnya beliau memintaku menunggu kembali sekitar 10 menit untuk mengecek kamar 311 yang telah ku apply atas nama Iman dan Mas Badri, serta 202  untuk Bang Ezra, Yoke dan Nandho.

Oiya, apartemennya Bang Emil harus segera dibayarkan nih ujarku dalam hati. Kuhubungi nomor pemilik apartemen tersebut melalui nomor IIMBA Office, tentu saja setelah izin dengan Silvia dan Mindy. Mereka cuma jawab. Just, use it. Berulang kali aku hubungi si Monika, sang pemilik apartemen, telefonnya masih saja tak aktif and finally setelah kutelfon sebanyak lima kali.. Nyambung euii.. AKu katakan bahwa aku adalah temannya Bang Emil yang akan melakukan pembayaran apartemen yang akan dia tempati tanggal 4 September bulan depan.. Selesai cerita macem macem, akhirnya kami sepakat untuk bertemu di MC D di dekat alamat yang dituju, tepat hari Kamis pukul 12 siang.

Baru menutup telefon.. Afgan nyanyi lagi (hehehehe..) “ya, Miss Lin, this is Yordan”, ucapku singkat. “Setelah dicek, Kamar Iman dan Badri itu bisa digantikan orang lain, Muslim dari Indonesia, tapi sedang menunggu konfirmasi dari dia, jikalau tidak masih ada satu lagi kog“, begitulah kata Miss Lin. “Kalau masalah 202, difficult Yordan?? “Lalu aku katakan Miss Lin, biar jelas, sebaiknya aku datang ke ruangan belaiau saja. OK, ucapnya. Dengan bersemangat aku menuju ke Lantai tiga Yunping Building, setibanya ditangga itulah insiden keseleo terjadi.. Maaaak, sakit banged. Alhamdulillah, setelah bicara lama dengan Miss Lin, kamar Iman dan Mas Badri ditambahkan satu orang mahasiswa Muslim asal ITB, hanya saja aku harus mengkonfirmasi masalah kamar Yoke dan Nandho, yang sampe sekarang tak jelas apakah dua penghuni lamanya, yaitu Rizal dari Malaysia dan Khan sang Vietnamese akan tetap bertahan di sana.

Kembali ke IIMBA Office, aku sedikit mengeluh rasa sakit di kakiku ke Azman.. Jawaban Azman sederhana.. “Antum memudahkan urusan orang, ikhlas.. Allah pasti memudahkan urusan antum…”. wah, semangat deh, hehe.. Thanks Bro..

Weiiks, baru inget, kalo Dika anak UI yang kuliah di STUT, jam 5 ini ngajak berenang di Swimming Pool-nya dorm. Biasa, di kampusnya kagak ade bos, hehehehe.. Pisss Diks.. Setelah meminjam kartu mahasiswa Azman, biar Dikanya nggak bayar mahal, hihihihi.. Dasar selundupan, akhirnya akupun segera menuju ke  dormitory.. Buuttt, mendingan cek surat ke sekretarisnya Professor Wu.. Belom dateng nih, itulah kalimatnya sekretaris yang berkaca mata ini.

Fiuh, dengan mengayuh sepedaku tercinta.. sampe juga ni di dorm.. rupanya Dika sudah nongol ditemenin sama Pak Bode dan pak Fery. Jujur aja, kakiku itu swakit sekali, boro boro renang, jalan aja susah, tapi karena tak mau mengecewakan Dika, willy nily.. Setelah sholat kamipun segera menuju ke swimming pool…

Jujur, kakiku saakiiitttt banged, kukatakan dengan Dika.. Tapi Dika bilang, “ente gerakin tuh, jangan sampe didiemin..” Kucoba satu putaran, nyerinya luar biasa, dua kali.. kekeke, masih sakit juga.. gua yang bego ya, namanya juga keseleo.. Tiga kali.. empat kali.. Iya ya?? Kog sakitnya berkurang.. Alhamdulillah, setelah berenang selama kurang lebih 1jam, nyeri kakiku langsung sekejap berkurang.. Nyaman deh.. ya agak sakit sakit dikit, tapi minimal dipake jalan udah beres, hehehe..

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas rasa sakit yang luar biasa itu, sakit yang tak sebanding dengan bertrilyun trilyun nikmat yang KAU berikan kepadaku ya Robbi…

Akhukum Doif..

22 Agustus 2008

Pagi hari, dikala sebagian besar penghuni dorm baru menuju pembaringan…

14
Aug
08

Kangen Kos Kosan Tercinta…

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..

“Bang, semalem kita (aku, Doddy ama Danang) ke rumah Ibu lo??, Katanya kamu dua minggu yang lalu telfon Mbak Siti ama Bapak ya??”

Itulah sepenggal kalimat dalam cetinganku dengan Amri, Kamis siang kemaren. Amri salah seorang temanku pada saat di Jogja, tepatnya sih teman kos, hehehehe… Bercerita tentang kos, aku jadi kangen banged lo.. Aku ceritain ya?? Sebenarnya aku mulai kos sejak kakakku yang kedua menikah di tahun 2002, dulunya kami berempat tinggal disebuah rumah mungil di perbatasan Kota Jogjakarta. Terus terang aku bersyukur banged mendapatkan kamar kos yang menyimpan banyak kenanagn itu.

Kos milik Pak Abdul Azis ini memang luar biasa, selain lokasi yang dekat dengan kampus, sekitar 5 menit jalan kaki, kos kosan ini juga bersebelahan dengan masjid , yang sebenarnya sih memang bagian tanahnya Pak Kos sih, hehehehe.. Selain itu, keluarga Bapak kos juga sangat baik dan ramah terhadap para penghuni kos. Bapak memiliki 3 orang putri. Bapak tinggal di sebuah rumah utama bersama Ibu dan anak bungsu beliau yaitu Mbak Inung yang kelak kemudian hari menikah dengan salah satu penghuni kos.. Jreng.. Yang pasti bukan aku lah, hehehehehe…

Di belakang rumah Bapak ada sebuah rumah lagi yang ditinggali oleh anak pertama beliau, yaitu Mbak Siti, Mas Bani dan kedua putri mereka yaitu Tika dan Afi.. Nah, kos kami berada di samping rumahnya Mbak Siti.

Aku ingat sekali sejak awal aku berada di kos itu, semua orang menyambut baik sekali.. Ada Mas Ewin, Doddy, Eliyus, Anton, Sugeng, Danang, Amri dan Ferdy. Semua teman teman yang baik dan menyenangkan. Tahun berganti, satu demi satu mulai meninggalkan kos. Dimulai dari Eliyus yang memutuskan pindah ke tempat saudaranya, kemudian Mas Ewin yang menikah, disusul oleh Mas Sugeng yang juga menikah (disinilah serunya nanti, hehehhe..) serta Ferdy yang mendirikan usaha kursus anak Islami.

Begitulah suka duka bersama dalam kos kosan… Yang paling menyenangkan adalah bentuk perhatian keluarga Bapak dan Ibu yang luar biasa kepadaku dan teman teman. Dimulai dari ulang tahunku yang setiap tahunnya pasti dirayakan dengan dibuatin kue tart besar oleh Mbak Siti… Allah, betapa menyenangkannya hari hari itu… (Sekarang daku tanya?? Ada nggak pemilik kos kosan yang mau ngerayain ultah penghuninya?? hehehe.. Jarang-jarang kan?? Tapi kayaknya memang aku adalah anak kesayangan Pak kos sih, hahaha.. Soalnya yang paling sering dibuatin aku je.. PEDE mode on..)

Atau jadi inget juga waktu aku wisuda, Ibu membuat bancakan, berupa nasi tumpang lengkap dengan semua lauk pauk dan beliau mengundang semua keluargaku dan juga orang orang sekitar untuk menikmati makan bersama demi merayakan wisudaku itu… Subhanallah ya… ada orang sebaik keluarga mereka ini??

Oiya, jadi inget kalo Ibu sedang panen buah.. Biasanya Ibu pasti ketok pintu kamar.. “Mas Yordan, ini ada sirsak lo?? atau Mas Yordan, ada Matoa tempatnya Mbak Siti.. “ atau “Ikan di kolam itu udah besar besar Mas Bani, diambil saja, biar dibakar anak anak“…. Satu lagi, kalau ada ronda malam, kami sengaja tidur malam semua, karena pastilah Ibu akan menawarkan kue buatan beliau yang sedianya untuk yang ronda, namun kebanyakan. Nah, kamilah yang menghabiskan sisa kue yang memang sengaja dibuat banyak, hahaha.. Dasar anak kos tak tau diri!!!

Khusus Ramadhan.. Wah, Subhanallah.. Ibu kos kami yang juga seorang guru SD ini, pasti menyediakan sahur dan buka gratis di awal awal Ramadhan.. Hemat deh, hehehe… Kalau Idul Adha, kami para anak kos pasti bakal menikmati tradisi panggang sate bersama, weleh.. enaknya…

Btw, mengingat-ingat tentang teman teman kos, aku bisa ceritain siapa deh mereka deh:

1. Mas Ewin, nama lengkapnya sih Erwin Saleh. Beliau lulusan HI FISIPOL UMY. Beliau ini yang tertua pada saat aku berada di kos. Mas Ewin adalah Direktur salah satu Baitulmattamwil yang cukup terkenal dan sangat berkembang di Jogjakarta, BMT Tamzis namanya (Promosi dikit lah.. dikasih royalti gak ni Pak?? hehehe). Suami dari Mbak Ana, yang menurut cucu Pak kos mirip Ferdy Hasan ini sangat sibuk bekerja. Mulai jam 7 pagi beliau sudah berangkat sampai dengan jam 5 sore. Selanjutnya baru deh, kam bisa ketemu atawa berkumpul di depan kamarnya yang memang disediakan kursi bambu dan kayu. Saat ini Mas Ewin sudah menikah dan memiliki seorang putri cantik. Beliau tinggal di Gamping, Sleman dan Alhamdulillah kayanya usaha beliau makin maju deh..

2. Elyus Dwi Rohmanu, itulah nama lengkapnya. Sarjana HI FISIPOL ini satu angkatan denganku, sangat aktif beraktifitas dibidang sosial kemasyarakatan. Asli Cilacap dan kayaknya masih sibuk aja deh di LSM-nya.

3. Sugeng Budi Upoyo atau yang sering kami panggil SBU. Sang pencuri hati Mbak Inung, anak bungsunya Pak kos. Dulunya sering ejek-ejekan sih, untung setelah dia menikah kami semua sudah pada melarikan diri, kalo nggak?? tamatlah riwayat kami di tangan landlord baru yang satu ini, hehehehe.. Mas Sugeng asli Banyumas. Jadi kalau mau belajar ngapak?? Hmm, he is the expert, hehehehe.. Sarjana Pendidikan Islam ini sekarang beserta istri menjadi guru di kampung kelahirannya.

4. Anton Ediyanto. Wonosobo punya deh, hobinya menghilang, pulang pulang pasti bercerita tentang praktikumnya yang gagal. Mulai dari pohonnya yang patah, akar yang tercerabut, pohon membusuk, weleh weleh.. Maklumlah dia memang Sarjana Pertanian sih, hehehehe.. Tapi ada satu hobinya yang luar biasa, tapi jangan ditiru ya?? Kalo mandi, Anton ini bisa ngabisin waktu 1 jam euiii.. untung kamar mandi kos ada dua.. Kalo nggak??? Satu lagu, Anton ini pecinta semua yang barbau klasik.. Mulai dari baju, sepatu ampe lagu… Tanya deh ama dia semua lagu jaman jebot… NYARIS HAFAL SEMUA…

5. Ferdian Adi Prasetyo. Mantan Ketua SKIF ISIPOL ini, luar biasa juga. Teman satu angkatan yang sangat fluent berbahasa Inggris ini sangat istiqomah sama kuliahnya (karena sampe sekarang aja belom kelar kelar juga skripsinya, kekeke, jangan marah ya Akhi…). Eits, tu nggu dulu ya.. jangan salah, dia orang yang sangat bertanggungjawab dan pekerja keras lo, sejak mahasiswa dia mendirikan lembaga kursus bahasa Inggris khusus bagai anak anak Muslim. Hasilnya, just see in the Bugisan Road. Salute for you, Akhi….

6. Doddy Arief Rochman. Penghuni kos paling ganteng, tiada duanya deh kata cewek-cewek, hehehehe.. Penyandang double degree, yaitu: Sarjana Komputer sekaligus Sarjana Komunikasi yang menurut banyak orang seganteng bahkan lebih ganteng dari Rio Febrian ini adalah penghuni kos paling trendy, paling gawul, paling keren, pokok e fisik top markotob deh, hehehe… Kalau mau tau trend terbaru.. Dialah Makhluk Tuhan Yang Paling Up to Date, haha.. Doddy, yang juga gape maen basket ini adalah salah satu temanku yang terakrab di kos, selain anaknya baik, juga sering membantu. Tapi kalo dah maen, udah deh.. lupa ama waktu. jadilah aku orang yang hobi ngamuk-ngamuk kalo dia main terus ama teman temannya. Saat ini Doddy bekerja di PT. Yamaha Jogjakarta.

7. Danang Aji Nugraha. Putra Wonosobo juga. Nah, Danang ini adalah yang super dekat denganku. Sangat luar biasa baiknya. Sudah kuanggap seperti adik sendiri. Cita citanya sih dulu waktu pertama kali kenal adalah “mau mengalahkan Abank” begitulah katanya, hehehe (Alhamdulillah tercapai dan me mang dia jauh lebih hebat). Anak yang satu ini pekerja keras, pendiem tapi sangat peduli dengan sekitarnya. Dia juga orang yang sarat dengan cita cita serta merupakan anak kesayangan Pak Tumino. Beasiswa dan Lomba Karya Tulis atau Penelitian jadi makanan sehari hari, jadi wajarlah kalo duitnya banyak, proyek juga dimana mana sih, hehehe.. Sebelum lulus Danang sudah banyak menangani projek, mulai dari hibah di jurusan, bekerja sebagai wartawan, hingga sebagai asisten jurnal di Jurusan Akuntansi. Disamping itu dia juga sempat menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Akuntansi di UMY. . Oiya, Danang ini baru saja pindah tugas, yang sebelumnya di Kalimantan, sekarang kembali lagi ke tanah Jogja… Jadi inget.. kalo sedang ada masalah di Taiwan aku paling sering SMS dia dan 5 menit kemudian HP berbunyi.. Paling sebentar 1 jam deh dia bakal nelfon aku?? Subhanallah, baik banged ya?? Lupa.. ada yang belum kusebut.. Danang ini lulus dengan predikat terbaik, dan saat ini lebih banyak mengurusi masalah auditing keuangan pemerintah daerah dibawah payung BPK RI.

8. Amri Wibowo sang Putra Purworejo, hehehe.. Kenapa jadi keren namanya ya?? Amri ini kukira dulu adalah anak Sumatera. Dari nama aja dah Sumatera banged deh.. Mirip nama guru silatku jaman jebot, hehehe… Amri iniadalah pindahan dari Akuntansi UNISBA, jadi dia hanya meninggalkan beberapa mata kuliah saja. Nah, semenjak kedatangan dia nih, orang ganteng di kos semakin banyak saingan, hahaha… Maklum dia nih menurut Ibu kos, saingannya si Doddy, sayang badannya nggak begitu tinggi dibanding yang lain. Pemilik lapangan badminton yang tak bisa bermain badminton (aneh nggak sih?? Punya lapangan eh.. dia malah jago banged renang) ini sederhana tapi sangat rapi kalau berpakaian. Cuma wuiihh, kebiasannya itu lo, nggak nahan.. Tiap minggu pasti balik ke rumahnya?? Padahal setahu kami waktu jalan jalan ke Purworejo, Ibunya pesen.. “Mbok gak usah pulang pulang sebelum selesai“, hehe… Amri juga temen deket yang sering menemai aku muter muter keliling Jogja. Tapi.. jangan ngajak dia deh, kalau dia sedang bete.. wuihhh, pengen nabok aja rasanya, hehehe… Piss Ri… Selain sibuk menjadi asisten jurnal, Amri juga adalah penyiar di RRI Pro 2 Jogja…

Oke deh.. Kapan kita reunian nih Mas Ewin, Mas Sugeng. Akh Ferdy, Anton, Eliyus, Danang, Doddy and Amri?? Miss you all..

Buat keluarga besar Pak Abdul Azis: Bapak, Ibu Sri, Mas Bani, Mbak Siti, Mbak Atim dan suami, Mbak Inung, Tika, Afi.. Terima kasih telah membuat aku serasa memiliki keluarga baru.. Kebaikan kalian insya Allah dibalas Allha dengan yang jauh lebih baik…. Amin..

Tainan, 15 Agustus 2008

Pukul 4 pagi, dikala menjelang subuh

09
Aug
08

Cinta Laki-laki Biasa

Cinta Laki-laki Biasa

-Asma nadia-

MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. “Kenapa?” tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan. Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari siding yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon
limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di
otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun
yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia
tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan
spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus
adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi
tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan
keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga
generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut
mereka.

“Kamu pasti bercanda!”

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul
senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat
Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita
melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

“Nania serius!” tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang
melamarnya.

“Tidak ada yang lucu,” suara Papa tegas, “Papa hanya tidak mengira Rafli berani
melamar anak Papa yang paling cantik!”

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik.
Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata
kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan
pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

“Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?” Mama mengambil inisiatif bicara, masih
seperti biasa dengan nada penuh wibawa, “maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?”

Nania terkesima. “Kenapa?”

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai
lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi.
Suaramu bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa.
Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan
terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’
yang barusan Nania lontarkan.

“Nania Cuma mau Rafli,” sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak
menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

“Tapi kenapa?”

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa,
berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

“Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!”

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter
kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu
mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena
Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan
data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme
berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh
tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang
Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu
juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa
merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania.
Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

“Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.”

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

“Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!”

“Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!”

“Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!”

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya
sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!

Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!

Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.

Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka
beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

“Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu
lelaki untuk menghidupimu. “

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah
dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania
dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya
menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal
itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.

“Tak apa,” kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.

“Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.”

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab
suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.

“Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?”

Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu
seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan
pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat
biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang
mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar  dan lucu, dan Nania
memiliki suami terbaik di dunia.
Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra.
Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara
Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar
untuk bersikap cuek tidak peduli.
Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian
membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak
semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun
Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

“Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan! “

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim
Nania.
Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan
sakit yang teramat sangat.
Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka
akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu
shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di
sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang
datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania
tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan
Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi  pembukaan berjalan lambat sekali.

“Baru pembukaan satu.”

“Belum ada perubahan, Bu.”

“Sudah bertambah sedikit,” kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan. “Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.”

Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki
sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului
keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti
setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

“Masih pembukaan dua, Pak!”

Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak
sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap
nasi pun bisa ditelannya.

“Bang?”

Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

“Dokter?”

“Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.”

Mungkin?

Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika
terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli
tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka
merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di
perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah
lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap
teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum
kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak
berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

“Pendarahan hebat.”

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.

Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara
Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa
saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa
dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke
rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama
anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya
sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh
membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit,
sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai
terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit,
kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli
bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor
tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil,
dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan
pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan
penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

“Nania, bangun, Cinta?”

Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening
istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk
pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania
sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku
kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

“Nania, bangun, Cinta?”

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania
sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata
kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi
orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar
itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau
badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir,
kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania
sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli
adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan
mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang
meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa
itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan
menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore
setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke
teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang
sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah
pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa
cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa
cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan
Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan
sempurna di dunia.
Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu
pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop,
rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal
yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu  bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya.
Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong
kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang
bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga
tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan
iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

“Baik banget suaminya!”

“Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!”

“Nania beruntung!”

“Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.”

“Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang
penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!”

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa
tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar
mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya
saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.
Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang
beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang
bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak
lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak
pernah berubah, untuk Nania.

– Asma Nadia –

04
Aug
08

Surat Hari ini (Al-Anfaal..)

Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah. Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al Anfaal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.

Menurut riwayat Ibnu Abbas r.a. surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah. Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam. Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang berjumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.

Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.Pokok-pokok isinya:

  1. Keimanan: Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka; menentukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah; jaminan Allah terhadap kemenangan umat yang beriman; ‘inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal; hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman; tindakan-tindakan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia; adanya malaikat yang menolong kaum muslimin dalam perang Badar; adanya gangguan-gangguan syaitan pada orang-orang mukmin dan tipu daya mereka pada orang-orang musyrikin; syirik adalah dosa berat.
  2. Hukum-hukum: Aturan pembahagian harta rampasan perang; kebolehan memakan harta rampasan perang; larangan lari/mundur dalam peperangan; hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam; kewajipan taat kepada pimpinan dalam perang; keharusan mengusahakan perdamaian; kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat perlengkapan perang; ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan; tujuan perang dalam Islam; larangan kianat kepada Allah dan Rasul serta amanatnya; larangan mengkianati perjanjian.
  3. Kisah-kisah: Keengganan beberapa orang Islam mengikuti perang Badar, suasana kaum muslimin pada waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung; keadaan Nabi Muhammad SAW sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyrikin terhadap beliau; orang yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w.; kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.
  4. Dan lain lain: Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman; sunnatullah pada seseorang dan masyarakat.




Blog Stats

  • 177,304 hits
August 2008
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Tentang Aku..

  • None