Archive for July, 2008

29
Jul
08

HAK ISTERI YANG HARUS DIPENUHI SUAMI…

 

HAK ISTERI YANG HARUS DIPENUHI SUAMI

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

 

[1]. MENGAJARKAN ILMU AGAMA
Di antara hak seorang isteri yang harus dipenuhi suaminya adalah memberikan pendidikan dan pengajaran dalam perkara agama. Dengan memahami dan mengamalkan agamanya, seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman.

“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrim : 6]

Menjaga keluarga dari api Neraka mengandung maksud menasihati mereka agar taat, bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan mentauhidkan-Nya serta menjauhkan syirik, mengajarkan kepada mereka tentang syari’at Islam, dan tentang adab-adabnya. Para Shahabat dan mufassirin menjelaskan tentang tafsir ayat tersebut sebagai berikut:

1. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Ajarkanlah agama kepada keluarga kalian, dan ajarkan pula adab-adab Islam.”

2. Qatadah rahimahullaah berkata, “Suruh keluarga kalian untuk taat kepada Allah! Cegah mereka dari berbuat maksiyat! Hendaknya mereka melaksanakan perintah Allah dan bantulah mereka! Apabila kalian melihat mereka berbuat maksiyat, maka cegah dan laranglah mereka!”

3. Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullaah berkata: “Ajarkan keluarga kalian untuk taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang (hal itu) dapat menyelamatkan diri mereka dari api Neraka.”

4. Imam asy-Syaukani mengutip perkataan Ibnu Jarir: “Wajib atas kita untuk mengajarkan anak-anak kita Dienul Islam (agama Islam), serta mengajarkan kebaikan dan adab-adab Islam.” [1]

Untuk itulah, kewajiban seorang suami untuk membekali dirinya dengan thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu syar’i) dengan menghadiri majelis-majelis ilmu yang mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih -generasi yang terbaik, yang mendapat jaminan dari Allah-, sehingga dengan bekal tersebut dia mampu mengajarkannya kepada isteri dan keluarganya.

Jika ia tidak sanggup untuk mengajarkannya, hendaklah seorang suami mengajak isteri dan anaknya untuk bersama-sama hadir di dalam majelis ilmu yang mengajarkan Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih, mendengarkan apa yang disampaikan, memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan hadirnya suami-isteri di majelis ilmu akan menjadikan mereka sekeluarga dapat memahami Islam dengan benar, beribadah dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah ‘Azza wa Jalla semata serta senantiasa meneladani Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Insya Allah, hal ini akan memberikan manfaat dan berkah yang sangat banyak karena suami maupun isteri saling memahami hak dan kewajibannya sebagai hamba Allah.

Dalam kehidupan yang serba materialistis seperti sekarang ini, banyak suami yang melalaikan diri dan keluarganya. Berdalih mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, dia mengabaikan kewajiban yang lainnya. Seolah-olah dia merasa bahwa kewajibannya cukup hanya dengan memberikan nafkah berupa harta, kemudian nafkah batinnya, sedangkan pendidikan agama yang merupakan hal paling pokok justru tidak pernah dipedulikan.

Seringkali sang suami jarang berkumpul dengan keluarganya untuk menunaikan ibadah bersama-sama. Sang suami pergi ke kantor pada pagi hari ba’da Shubuh dan kembali ke rumahnya larut malam. Pola hidup seperti ini adalah pola hidup yang tidak baik. Tidak pernah atau jarang sekali ia membaca Al-Qur’an, kurang sekali memperhatikan isteri dan anaknya shalat, dan tidak memperhatikan pendidikan agama mereka sehari-hari. Bahkan pendidikan anaknya dia percayakan sepenuhnya kepada pendidikan di sekolah, dan bangga dengan sekolah-sekolah yang memungut biaya sangat mahal karena alasan harga diri. Ia merasa bahwa tugasnya sebagai orang tua telah ia tunaikan seluruhnya. Lantas bagaimana kita dapat mewujudkan anak yang shalih, sedangkan kita tahu bahwa salah satu kewajiban yang mulia seorang kepala rumah tangga adalah mendidik keluarganya. Sementara tidak bisa kita pungkiri juga bahwa pengaruh negatif dari lingkungan yang cukup kuat berupa media cetak dan elektronik seperti koran, majalah, tabloid, televisi, radio, VCD, serta peralatan hiburan lainnya sangat mudah mencemari pikiran dan perilaku sang anak. Bahkan media ini bisa menjadi orang tua ketiga, maka kita harus mewaspadai media-media yang ada dan alat-alat permainan yang sangat berpengaruh buruk terhadap perilaku anak-anak kita.

Oleh karena itu, kewajiban seorang suami harus memperhatikan pendidikan isteri dan anaknya, baik tentang tauhid, shalat, bacaan Al-Qur’annya, pakaiannya, pergaulannya, serta bentuk-bentuk ibadah dan akhlak yang lainnya. Karena Islam telah mengajarkan semua sisi kehidupan, kewajiban kita untuk mempelajari dan mengamalkannya sesuai Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Begitu pula kewajiban seorang isteri adalah membantu suaminya mendidik anak-anak di rumah dengan baik. Seorang isteri diperintahkan untuk tetap tinggal di rumah mengurus rumah dan anak-anak, serta menjauhkan diri dan keluarga dari hal-hal yang bertentangan dengan syari’at Islam.

[2]. MENASIHATI ISTERI DENGAN CARA YANG BAIK
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan agar berbuat baik kepada kaum wanita, berlaku lemah lembut dan sabar atas segala kekurangannya, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia
menyakiti tetangganya. Berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berwasiat-lah kepada wanita dengan kebaikan.” [2]

[3]. MENGIZINKANNYA KELUAR UNTUK KEBUTUHAN YANG MENDESAK

Di antara hak isteri adalah suami mengizinkannya keluar untuk suatu kebutuhan yang mendesak, seperti pergi ke warung, pasar dan lainnya untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Berdasarkan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sesungguhnya Allah telah mengizinkan kalian (para wanita) keluar (rumah) untuk keperluan (hajat) kalian.” [3]

Tetapi, keluarnya mereka harus dengan beberapa syarat, yaitu:

1. Memakai hijab syar’i yang dapat menutupi seluruh tubuh.
2. Tidak ikhtilath (berbaur) dengan kaum laki-laki.
3. Tidak memakai wangi-wangian (parfum).

Seorang suami pun dibolehkan untuk mengizinkan isterinya untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid apabila ketiga syarat di atas terpenuhi.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Apabila isteri salah seorang dari kalian meminta izin untuk pergi ke masjid, janganlah ia menghalanginya.” [4]

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Artinya : Janganlah kalian melarang para wanita hamba Allah mendatangi masjid-masjid Allah.” [5]

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa’dah 1427H/Desember 2006]
__________
Foote Note
[1]. Lihat Tafsiir ath-Thabari (XII/156-157) cet. Darul Kutub Ilmiyah, Tafsiir Ibnu Katsir (IV/412-413) cet. Maktabah Darus Salam dan Tafsiir Fat-hul Qadiir (V/253) cet. Darul Fikr.
[2]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5185-5186) dan Muslim (no. 1468 (62)), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.
[3]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5237), dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha.
[4]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5238), Muslim (no. 442 (134)), at-Tirmidzi (no. 570), an-Nasa-i (II/42) dan Ibnu Majah (no. 16), dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma.
[5]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 900), Muslim (no. 442 (136)), at-Tirmidzi (no. 570) dan an-Nasa-i (II/42), dari Shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma.

 

Advertisements
27
Jul
08

I can not change your score!!!!!

Assalamulaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,

“I can not change your score”… Itulah kalimat terakhir yang tertulis di email yang di kirim oleh Professor Chen, aggrgrgrgrgrgrg… rasanya gimana gitu… Aku ngerasa kecewa sekali, tapi yah sudahlah.. “Sabar.. Sabar, kamu kan dah usaha, Dan..” Itulah kalimat yang muncul dari bibir semua teman-teman yang aku ajak diskusi tentang masalahku ini. Yupe, mereka benar.. harus SABAR!!!

Cerita ini sebenarnya bermula dari Spring Semester yang lalu, ketika aku “nekad” mengambil 5 Mata Kuliah, disela sela menemukan topik riset untuk thesisku nanti. Kenapa “nekad“? Karena rata-rata mahasiswa hanya kuat dengan maksimal 4 Mata Kuliah saja.. Nah, salah satu mata kuliah yang kuambil adalah Business Ethics and Information Security (BEIS), sebuah mata kuliah yang sangat menarik, karena membahas masalah Etika berbisnis dan juga teknologi informasi…

Mata kuliah ini diinstrukturi oleh Professor Victor Chen, yang merupakan Ph.D lulusan Hawaii, USA. Terus terang, aku sangat tertarik dengan mata kuliah  ini, aku selalu menampakkan mukaku dalam kelas, berdiskusi di dalam kelas dan semua tugas kukerjakan dengan sangat baik, karena memang persyaratan untuk mendapatkan nilai baik dari mata kuliah ini adalah Proposal riset, presentasi proposal, presensi dan aktifitas kelas serta presentasi hasil riset. Research project kukerjakan dengan baik  bersama Pablo (Bolivia), Fili (Israel) dan Khan (Vietnam).

Dalam bayanganku, minimal aku akan mendapatkan nilai di atas rata-rata, karena insya Allah semua prasyarat sudah kulalui dengan sangat baik, minimal 85-an keatas lah.. Itu yang muncul dalam otakku…

Dua minggu yang lalu, aku tanpa sengaja sedang mengurus sesuatu di IMBA Office, dan mataku tertuju pada sebuah pengumuman nilai… BEIS, hmmm.. langsung aja kucari nomor mahasiswaku.. Whats??? Cuma dapet dibawah 80???? Kulihat lagi satu persatu nilai yang lain… hmmm, ini nggak fair.. seruku dalam hati.. lulus sih lulus Bung (catatan: syarat lulus di IMBA minimal mendapatkan score 70), tapi… banyak mahasiswa senior yang nampakin batang hidungnya aja nggak pernah, bisa dapet nilai di atas 83?? bahkan ada yang cuma dateng, diem, duduk manis, senyam senyum, trus minggat waktu break, juga dapet 85??? hmmm…

Akupun langsung menuju ruangan Professor Chen di lantai 4, di gedung yang berbeda.. Kuketok pintunya sampe beberapa kali, tapi tak ada jawaban…

Akhirnya aku meninggalkan ruangan tersebut dengan rasa “gondok” luar biasa.. Astagfirullahal’adzim… Saking keselnya, hehe… (kesel kog, haha hehe, ya??)

Akupun menuju Research Room yang ternyata sedang rame sekali, ada Pak Badri, Pak Mungki, Mbak Dita, Mbak Ana serta kedua putra dan putri pasangan tersebut. Akupun bercerita mengenai masalahku tersebut dan merekapun hanya memberikan saran hal apa sebaiknya yang sebaiknya aku lakukan..

Siang itu juga kukirim email protes kepada sang Professor sebanyak dua kali dan aku minta untuk bertemu beliau, tapi sampe besok pagi belum juga ada jawabannya. Akhirnya, kuforward semua emailku itu kepada Silvia, IMBA Office Assistant yang biasa membantu mahasiswa untuk bertemu dengan Professor.. Alhamdulillah , Silvia banyak membantu dan akhirnya akupun bisa bertemu dengan sang Professor…

Take a sit.. Itulah kalimat pertama beliau kepadaku.. Kemudian Professor ini langsung mengambil lembar nilai dan menunjukkan kepadaku semua kriteria penilaian.. “Semua nilaimu sangat baik, namun ada hal yang membuatnya berkurang signifikan..” kuperhatikan satu persatu, kolom kolom penilaian itu.. Professor Chen pun menyambung pembicaraan dengan kalimat “presensimu nggak penuh”… tapi kemudian akupun langsung menyangkal bahwa aku selalu hadir di kelas dan selalu mengikuti diskusi“, tapi Professor bersikeras  bahwa ia hanya berpatokan pada laporan yang diberikan oleh Teaching Assistant, walaupun di belakang kalimatnya, dia  pun mengatakan.. “aku kenal siapa kau, kau sangat aktif di kelas, tapi faktanya..” atau mungkin kau lupa untuk sign attandance…” May be, Professor”, jawabku lirih…

Aku bertanya pada sang Professor, apakah jikalau aku mendapatkan bukti dari TA bahwa aku hadir dalam setiap pertemuan, maka Professor akan merubah nilaiku?? Dengan sigap si Professor ini menjawab: “tidak bisa!!! karena sudah diumukan dan telah masuk dalam data base penilaian universitas, dan regulasi di universitas, sekali nilai keluar pantang untuk diubah…”

To be honest, aku sangat kecewa, karena sebetulnya, kalau saja presensi itu lengkap, maka nilaiku akan mencapai 91.. Astagfirullah… Dengan gontai.. aku menuju keluar ruangan, dan mengucapkan terima kasih pada Professor Chen…

Keluar ruangan, aku langsung bertemu Iman, saudaraku yang akrab kupanggil Aam, yang kebetulan sejak tadi menungguiku di depan lift.. Aku cuma bilang.. “I really really don’t understand… So dissapointed, Am..” sembari menceritakan hasil pertemuanku dengan Professor itu…

Diperjalanan menuju dorm.. Wait.. aku tiba tiba teringat, kalau ada Professor yang diprotes oleh para students, karena tidak meluluskan lebih dari setengah kelas.. Yah, Professor Yang Yungnane, beliau mengajar Organizational  Behavior alias OB dan lebih dari setengah kelas tak lulus, kemudian beliau dipanggil Direktur Program untuk menjelaskan semuanya… Yang aku dengar sih, akan ada pertimbangan lain dari beliau untuk merubah nilai para students yang failed itu (walau kabar terakhir yang tersiar, permintaan untuk mengubah nilai itu, ditolak universitas).. hmmm, setelah sampai di kamar, secepat kilat aku menuliskan email kepada Pak Badri guna minta pertimbangan.. Alhamdulillah, responnya cukup baik dan ada beberapa saran yang bisa aku pertimbangkan..

Lalu kukirim juga email untuk Silvia dan menjelaskan segala sesuatunya.. dan Silvia menjanjikan untuk berdiskusi dengan professor Wu, yang juga adalah Direktur Program.. dan hasilnya.. No!!!! OB is so different case, Yordan..

Langkah terakhir… Kukirim kembali email untuk Professor Chen.. dan jawaban akhirnya adalah judul dari kisah ini… hoohhh!!! Beginilah kalau kuliah di luar negeri, tak ada tawar menawarnya… Regulasi.. ya regulasi… hehehee… Yaw dah, ngapain sedih… dah terjadi!!! Mending lupakan dan kerjakan tugas lainnya…

Benar kata Aam, “sudahlah Bang, kita ini calon orang tua, calon suami, calon pemimpin rumah tangga… MASAK KARENA BEGINIAN HARUS SEDIH.. KITA HARUS SABAR MENJALANI APAPUN, SEMUA PASTI ADA HIKMAHNYA…”

LAST SENTENCE: JAZAKALLAH FOR THE ADVISE, BRO…

26
Jul
08

Ya Robbi…


Kusut dalam Hening

Mencari Titik Temu

Bersujud Tengadah

Pasrah di Ketakberdayaanku

Perlahan KAU hadir

Menggeletarkan sukmaku

Yang Menangis, Hampa dan Semu…

Bahagia Terjawabkan ya Allah..

Ya Robbi…

Aku tak kuasa meminta apa

KAU-lah Maha Tau segala

Kejujuran Hidup..

Kedamaian Kekal abadi…

Robb.. Izinkan Aku Menjadi HambaMU yang Sesungguhnya…

Continue reading ‘Ya Robbi…’

24
Jul
08

Tablig Akbar Bersama Neno Warisman…

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,

Malam 12 Juli 2008, aku dikontak oleh Bu Dewi, salah seorang mahasiswa NCKU yang kebetulan mengurusi aktifitas Dawkah di wilayah Selatan Taiwan. Bu Dewi memintaku untuk membawakan sebuah acara Tablig Akbar yang akan diselenggarakan oleh Ikatan Warga Muslim di Taiwan atau yang lebih dikenal dengan IWAMIT Kaohsiung dan kali ini mereka menghadirkan Ustadzah Neno Warisman.

Agak kaget juga karena dipasangkan dengan Rizki Ramadhani, alumni UI yang saat ini juga sedang melajutkan studinya di Universitas paling bergengsi di ROC ini. Hmmm, kenapa cowok semua ya?? Alasannya, karena Imam Masjid Kaohsiung sendiri tidak mengizinkan jikalau pembawa acara di masjid berbeda jenis kelamin. Jadilah akhirnya kami berdua yang diminta teman-teman IWAMIT.

Pagi jam 6 Waktu Taiwan, aku berangkat menuju Kaohsiung bersama Azman. Ceritanya aku kayak asistennya Ketua Formit Selatan nih, hehehe..

Jam 7.30 kami sampai di Main Station kota Kaohsiung setelah kurang lebih 45 menit berada di kereta dari kota Tainan. Wuihh, inilah kereta termurah yang pernah kunaiki di Taiwan ini, tapi jangan tanya deh fasilitas dan kenyamanannya (see the picture).. weleh, kog malah ngomongin kereta..

Lanjut!!!! Nah, kamipun seterusnya naik bis menuju Masjid Kaohsiung, dengan membayar hanya NTD 12, kami pun melenggang menaiki bis yang berjudul “88” ini, hehe.. weits, sampe depan masjid kami siap siap turun, tapi kog malah nggak berenti berenti juga, eh udah agak jauh dari masjid, kamipun kamipun langsung menuju pintu bis, dan si sopir membuka pintu yang otomatis itu sambil bicara yang kira kira artinya begini “kalau mau berenti seharusnya pencet bel dong“, hehehehe.. “Dasar  emang katro ni kita berdua, rutukku dalam hati..”.

Sampe juga deh di masjid, panitia sudah mulai berkumpul, begitu juga para tamu undangan sudah ramai memenuhi masjid dan pelatarannya. Setelah melalui banyak acara dan sambutan, akhirnya sampai juga giliranku dan Rizki membawakan acara. Alhamdulillah, chemistry-nya cepat sekali dapat dengan Rizki, mungkin karena dia udah biasa ceting denganku ya?? hehehe..

Bu Neno Warisman, Subhanallah, beliau luar biasa sekali dalam memberikan tausiyah kepada kami semua, mahasiswa dan para pekerja Indonesia di Taiwan.

Akhirnya, tepat pukul 5 sore, acarapun berakhir. Alhamdulillah, Barokallah Mas Taufik dan teman-teman IWAMIT, atas kesuksesan acaranya..

Allahu Akbar!!!

11
Jul
08

Azman!!! Yordan!!!

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,

Hi Yorman, itulah kata yang muncul ketika Silvia membalas emailku… Kenapa Yorman sih?? Sebenarnya semua berawal dari banyak sekali orang di NCKU ini yang salah memanggil kami berdua. Azman dipanggil Yordan. Yordan dipanggil Azman.. Jelas jelas beda gito loh (ntar liat aja foto kita berdua dan bandingkan).

Kalau hanya sekali dua kali, manggil salah.. itu bukan masalah.. tapi kalau berkali kali dan banyak orang.. kan mboseni, hehehe.. Inilah daftar-daftar makhluk (yang kuingat) diantara sekian banyak yang memanggilku dengan sebutan Mantan Ketua BEM UI itu:

1. Jason, classmate dari USA.. Dia dengan tenangnya tiba tiba menyapa.. Hi, Azman how are you, long time no see?? (Lokasi di parkiran Dorm IMBA NCKU)

2. Silvia, Officernya IMBA NCKU, tiba-tiba teriak di officeAzman, Professor Wu already signed your course exemption application” (LOkasi: Office IMBA NCKU)

3. Boogie, Senior dari Mongolia, “Hi, Azman.. would you like to help me??” (Lokasi: Fitness Centre)

4. Garret, Classmate dari Ireland, Hi Azman.. (Lokasi Lantai I IIMBA NCKU)

5. Phuong, Senior dari Vietnam.. dia ceting dengan Azman tapi dia mengira itu aku.. dia bertanya.. what is the full name of IRD Professor?? Padahal yang ikut MK itu kan diriku dan dia grupmateku, kakaka.. (Lokasi dunia maya, halah opo iki)

6. Jeremy, Classmate dari Kanada.. Hi Azman.. whats up?? Sambil melambaikan tangannya kepadaku.. Maksud?? (Lokasi Kelas HRM)

7. Paola, Senior from Bolivia.. Azman, do you know him?? [sambil nunjukin kertas yang bertuliskan nama salah seorang Guru Besar salah satu PTN di Indonesia] (Lokasi IIMBA Office)

8. Ivan, Staff IIMBA Office… Azman, do you know where is the key of Harvard Room?? Gua cuma ngeliatin ni orang, dan rasanya pengen tak terkam mukanya, huahahaha… (Lokasi IIMBA Office)

9. Alvaro, Junior dari Panama.. Dengan sok akrabnya tiba tiba dia bertanya kepada Azman, Hi Man, where is the picture? Please sent to me? Do you take our picture when we were presenting yesterday, rite??” Padahal yang ngambil foto dia kan.. diriku… fiuh.. (Lokasi Research Room)

10. Trinh, Ph.D Student dari Vietnam… Azman, I got it, Nicholas teach me how to do that?? Lah, yang diajak ngomong kan aku, Azman aja duduknya jauh dibelakang..  (Lokasi Ruang 62201, Kelas Communication Network)

Pokoknya masih banyak yang lainnya. Agak sebel juga sih.. Nah, pertanyannya emang kita berdua semirip apa sih?? Perasaan gak ada dikit aja miripnya… Dan sebetulnya kan nama Yordan lebih mudah dari Azman.. terutama bagi teman teman western.. Tapi kenapa salah terus??? fiuh..

NB: Komentar ini akan terus bertambah, seiring berjalannya waktu, hehehe..





Blog Stats

  • 177,304 hits
July 2008
M T W T F S S
« Apr   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tentang Aku..

  • None